[1/2] Let me be happy :)

Cast: Kim ‘KEY’ bum, Choi Minho
Rating: G, AU
Genre: Family, Brothership, Life, angst


Apa yang kau ketahui tentang mawar merah?

Mempunyai jiwa keanggunan yang besar?

Atau bahkan kau berpikir jika mawar merah adalah sesuatu yang masuk kedalam daftar benda favorit untuk para wanita?

Mawar merah adalah sesuatu yang berharga bagiku. Um, bukan. Lebih tepatnya separuh jiwaku.

Bagaimana bisa? Mungkin karena aku sering beranggapan jika akulah bunga mawar itu. Aku ingin berguna sepertinya.

Bahkan salah satunya ialah mereka melambangkan cinta, karena aku memang ingin memberikan cinta pada semua orang yang berada di sekelilingku. Tapi.. dapatkah??

Aku yakin, jika kau tak mengerti sepenuhnya tentang perkataanku ini. Atau lebih parahnya kau tak mempercayai jika seorang namja sepertiku memiliki kebun mawar merah di belakang rumahnya?

Aku tak ingin menyembunyikan hal ini pada kalian. Aku pikir semua ini tak akan merugikan pihak manapun bukan? Jadi, apa salahnya??

Aku menyayangi mawar-mawarku. Bahkan aku merawat mereka seperti merawat diriku sendiri. Tak tanggung-tanggung lagi, jika aku rela menghabiskan hampir seluruh waktu senggangku hanya untuk mereka.

Tak ada seorangpun yang kuijinkan untuk menyentuh apalagi mendekatinya. Aku hanya ingin merawatnya dengan kedua tanganku ini tanpa ada campur tangan orang lain. Apakah kau berpikir jika aku seorang yang aneh? Oh, atau mungkin lebih parahnya kau menganggapku sebagai namja gila? Haha, terserah apa pendapat kalian. Yah memang, beginilah diriku ini.

* * *

“Hyyyaaaa~ hyung, sudah larut malam! Mengapa kau masih di taman itu?? Mari kita makan malam bersama!!” suara Minho dongsaengku, membuyarkan segala lamunanku saat ini. Ia berdiri di muka pintu sembari menunjukkan wajah kesalnya.

“ah, kau ini! Mengagetkanku saja..” aku segera beranjak dari sebuah bangku berwarna putih yang dikelilingi oleh tanaman mawar-mawar indah itu.

Aku terus melenggang masuk ke dalam rumah tanpa memperdulikan kehadiran dongsaengku yang telah menunggu lama di muka pintu. Pantaskah aku memanggilnya dongsaeng? Bahkan umur kami yang hanya terpaut 3 bulan.

“hyung, sebegitu dinginkah kau padaku?” Minho terus saja berjalan membuntutiku dari belakang. Namun apa yang kulakukan? Mulutku saja terasa begitu berat untuk menjawab pertanyaan bodoh darinya. Menoleh kearahnya pun tidak.

Hingga akhirnya celoteh-celotehannya tak terdengar lagi. Itupun karena ia tak berani mengikuti langkahku hingga memasuki kamar pribadiku. Aku berhasil membuat mulutnya terdiam hanya karena hentakan keras dari pintu kamar yang kututup tepat di depan wajahnya.

Hey, apakah kalian menganggapku sebagai hyung yang kejam?

Tidak, kalian salah. Appakulah yang berhak kalian salahkan, bukan aku!

Ia melakukan suatu hubungan di belakang ummaku. Umma yang sangat kusayangi. Ia juga membunuh ummaku secara tak langsung!!

Bahkan lebih parahnya, appa memiliki seorang anak lelaki dari hubungan terlarang itu. Hubungannya dengan asistent pribadi keluarga kami! Dan 2 tahun yang lalu, tepat saat umurku genap 17 tahun.. perbuatan appa semuanya telah terbongkar. Ntah bagaimana cara membongkarnya. Yang jelas terlihat umma mengalami shock berat, ia tak dapat menerima kenyataan tersebut. Ia terlalu mencintai appa,, ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan menenggelamkan seluruh tubuhnya di atas bath up yang penuh berisi air sabun.

Dapatkah kalian merasakan, bagaimanakah rasa sakitnya hatiku karena semua ini??

Jujur, kini hatiku terasa begitu hancur menjadi serpihan kecil yang ntah kapan dapat tergabung manjadi utuh kembali.

Tepat disaat umurku genap 17 tahun, saat aku memulai menginjak kedewasaan.. sebuah kenyataan pahit menyelimuti kehidupanku.

Aku yang awalnya memiliki pribadi ceria, bak tersambar petir tanpa adanya angin atau pun hujan kini semuanya telah lenyap tak berbekas. Akupun juga tak mengingat bagaimana caranya agar dapat tersenyum kembali?? Tersenyum lepas tanpa adanya suatu beban atau paksaan.

Kehidupanku hancur! Benar-benar hancur!

Karena mereka, aku menjadi seperti ini.

Karena perbuatan mereka, umma meninggalkanku untuk selamanya! Umma yang telah kuandalkan sebagai wanita terhebat dalam hidupku, umma yang selalu ada di kala aku mendapatkan suatu masalah.. Umma yang selalu membelai rambutku sebelum aku tertidur pulas.. akhirnya, semua itu hanya kenangan manis semata yang terus memenuhi pikiranku..

Karena perbuatan mereka jugalah, secara tiba-tiba aku memiliki saudara lelaki yang sama sekali tak kuinginkan!

Karena mereka, aku kesepian…

bukan ragaku! Tapi jiwakulah yang sangat merasa kesepian..

Aku hanya melampiaskan kesepian ini pada mawar-mawarku. Hanya merekalah yang mengerti keadaanku, hanya mereka yang dapat merasakan kerapuhanku saat ini. Karena setiap saat mereka setia mendengarkan keluh kesahku.. Bukan orang-orang keji seperti mereka!!

Dan yang ingin kutanyakan, pantaskah aku melemparkan kekesalan dan kekecewaanku pada Minho?

Aku tahu, memang ia tak mengerti betul permasalahan yang melilit keluargaku. Mungkin yang ia tahu hanyalah ia ditakdirkan menjadi seorang anak dari seseorang berdarah Asia Selatan dengan sedikit campuran Indonesia yang terletak di Asia Tenggara. Dan secara kebetulan ia memiliki appa yang sama denganku. Ia juga dianugerahi paras yang tampan karena perpaduan wajah khas Korea dengan sentuhan wajah khas Asia Selatan. Memiliki kedua mata yang terlihat jauh lebih lebar dariku. Warna kulit yang eksotis tidak sepertiku yang hanya berwarna putih sedikit kemerahan.

Namun bukan kelebihan fisiknya itulah yang aku permasalahkan. Aku sadar benar, jika sebelum menjadi sebuah ‘bibit manusia’ ia tak dapat memilih wanita mana yang akan menjadi ibunya. Di sisi lain, aku juga sadar bahwa ia tak mungkin dapat memilih dengan cara apa ia akan berada di dunia ini. Apakah ia terlahir dari hubungan normal biasa dari sepasang suami istri, atau ia akan terlahir dari hubungan terlarang seperti pada kenyataannya sekarang.

Aku ingin menjadi seorang yang tegar, namun aku tak bisa. Sangat sulit bagiku untuk melakukannya. Mengakui keberadaan Minho saja, perlu waktu yang tak singkat untukku. Apalagi mengakui Elma ahjumma menjadi ibu tiriku. Yang kata Appa ialah ummaku yang baru.

Hey, sampai kapanpun aku tak akan menganggap ia sebagai ummaku! Ummaku hanya satu, Shin Hyo Ra seorang!! Tak peduli jika ia begitu bersikeras memintaku untuk memanggilnya dengan sebutan ‘umma’. Tak peduli jika ia menangis tersedu-sedu sembari memeluk kedua kakiku hanya karena ia menginginkan sebutan ‘umma’ yang terucap dari bibirku. Tak peduli berapa kali tamparan bahkan pukulan yang aku dapatkan dari tangan appa yang ia berikan atas perbuatan yang kulakukan pada ahjumma itu.

Apakah semua yang kuperbuat ini salah besar??

“hyung~ tidakkah kau merasa lapar? Aku lelah menunggumu di depan pintu seperti ini! Cepatlah keluar!!” gedoran pintu Minho berhasil membuat kegaduhan seisi rumah.

Kuurungkan niatku untuk merespon teriakannya. Cih! hanya membuang-buang tenaga saja. Kututupi kepalaku dengan salah satu bantal, namun tetap saja teriakan Minho yang begitu nyaring benar-benar menggangguku.

Dengan langkah malas, aku membuka pintu kamar. Dan mendapati ia tengah terduduk di depan pintu dengan nafas yang tersengal-sengal karena telah lelah meneriakiku.

“waaah, hyung sudah keluar? akhirnya kau menyerah juga,, mari kita makan bersama”

‘sigh! menyerah maksudmu? tidakkah aku salah mendengar? aku keluar dari kamar ini bukan karena aku menyerah padamu, tapi aku tak suka mendengar teriakan dari suara jelekmu!’ aku hanya dapat menumpahkan kekesalanku dalam hati.

Dengan cepat Minho berusaha menggandeng tangan kananku lalu menariknya menuju ruang makan. Senyuman tulus Minho sedikit meluluhkan kekerasan hatiku. Namun setelah sesaat aku mengingat latar belakangnya perasaan benciku kian tersulut.

* * *

“hyung mau makan apa? biar kuambilkan..” tanya Minho sembari mengambilkan sepiring nasi untukku.

Untuk kesekian kalinya, bibirku terasa begitu berat saat ada niat untuk menjawab perkataan-perkataan Minho.

“haha, ternyata cukup sulit bagimu untuk membuka suara.. bagaimana jika cumi goreng?” tanyanya lagi.

aku hanya dapat mengangguk malas diikuti desahan-desahan tak penting dari mulutku.

Makan malam ini terkesan sama dengan malam-malam sebelumnya. Aku hanya duduk berdua bersama Minho di meja makan. Appa yang terlalu mengedepankan perusahaannya daripada aku, anak kandungnya. Elma ahjumma yang kini kian sibuk membantu appa mengelola perusahaan. Dan sekarang tinggallah dua orang namja di rumah seluas ini ditemani dengan pelayan-pelayannya yang setia. Namun apa gunanya ada pelayan jika mereka tak dapat meramaikan hatiku?

* * *

“hyung, maukah kau menemaniku ke pasar malam? telah lama aku tak menikmatinya..” tanya Minho di sela-sela mengunyah makanannya.

Aku berusaha untuk berpura-pura tak mendengar perkataannya. Aku terus saja melahap sisa makananku yang berada diatas piring.

“hyung? kau mendengarku?” terdengar jelas jika volume suara Minho diperkeras namun tak mengurangi sisi kelembutannya.

“ayolah hyuuung~ aku mohon.. hanya malam ini! Jadilah hyung yang benar-benar dapat menjadi panutanku.. Kau boleh membenciku, kau boleh menindasku sesuka hatimu, kau boleh tak menganggapku menjadi adikmu untuk selama-lamanya.. tapi tolong, sekali ini saja.. ” bulir-bulir air mata terlihat jelas jatuh dari pelupuk mata indahnya.

Tiba-tiba saja tanganku terasa begitu lemas saat mendengar isakan tangis pelan dari mulut Minho. Hingga kugeletakkan begitu saja sendok yang kugunakan untuk makan. Hatiku bergetar hebat, sekejam itukah aku?

Kutarik nafas panjang. Berharap menemukan suatu kelegaan pada diriku. Diriku yang sangat menyedihkan.

Otakku masih bergelut untuk mendapat jawaban yang tepat dari permintaan Minho. Kubiarkan saja si devil dan si angel yang terus bertarung pendapat untuk memenangkan hatiku.

‘Key-ah, apa salahnya kau memenuhi permintaan adikmu itu walau semalam saja? Tidakkah kau ingin menjadi hyung yang baik? kau pasti akan menerima kebahagiaan yang tak pernah kau kira.. Jangan pernah memikirkan darimana ia ada, atau hal-hal yang membuatmu kian membencinya! Sadarlah, jika ia tak dapat merubah takdirnya untuk tidak menjadi dongsaengmu! dia tak mengerti apa-apa..’

‘Key-ah, apakah kau sadar jika kehadiran Minho membuat umma-mu meninggalkan dirimu untuk selama-lamanya? Apakah dengan begitu saja kau dapat melupakan semuanya? Apakah kau tetap menyayangi bahkan menuruti permintaan Minho yang telah merebut seluruh kebahagiaan yang pernah kau dapatkan sebelumnya? betul-betul namja bodoh..’

“hyung, kau tak apa? kulihat sedari tadi, kau tampaknya sedang melamun.. sudahlah, lupakan saja permintaan konyolku tadi..” ujar Minho sembari menyudahi makan malamnya. Ia bangkit dari tempat duduknya, dan mencoba untuk meninggalkanku sendiri di meja makan.

Kutundukkan wajahku dalam-dalam hanya untuk menyembunyikan raut kesedihan. Aku tak mau jika Minho mengetahuiku sedang menahan tangis karenanya. Aku tak mau jika ia semakin menganggapku sebagai namja lemah dan rapuh. Saat kulirikkan mataku menuju Minho, ia tampak menoleh ke arahku .

“oiya, tenang saja.. aku tak akan membencimu meski kau tak dapat mengabulkaan permintaanku! aku akan tetap menyayangimu sebagai hyung hingga kapanpun! Meski keadaan kita seperti ini..” kudengar suaranya semakin bergetar karena bercampur dengan isakan tangis.

“aku akan mengantarmu ke tempat itu!” tiba-tiba saja meluncurlah satu kalimat yang tak pernah kuduga sebelumnya dari mulutku sendiri.

Aku cukup merasa lega, karena dengan susah payah sedikit demi sedikit aku dapat melawan rasa kebencianku padanya.

“ah, jincha?” kulihat wajahnya berubah seketika menjadi berseri-seri dengan kedua matanya yang semakin membulat. Ia berlari kecil kearahku, dan memelukku erat sekali.

“gomawo..gomawo.. jeongmal gomawoyo hyung!” ia berusaha menyeka air mata bahagianya.

Aku tak pernah berfikir sebelumnya, sebahagia inikah Minho saat mengetahui aku akan mengantarnya ke pasar malam?? Ini hal adalah hal sepele menurutku. Namun reaksinya menunjukkan bahwa ia benar-benar bahagia. Hingga ia tak dapat menyembunyikan air mata kebahagiaan dariku.

* * *

“hyuuuung~ bagaimana jika kita berfoto dahulu di dalam box itu? memang terasa begitu mengenaskan jika mengetahui bahwa hingga foto berduapun kita tak memilikinya.. ayolaaahh~ anggap saja saat ini kita sebagai namja kecil berumur 10 tahun!!” mata Minho yang terlihat begitu berbinar, membuatku begitu tak tega jika menolaknya. Ayolah Key, hanya malam ini!!!

Dan sekali lagi, aku memenuhi permintaannya. Kami berfoto bersama di dalam box. Aku yang menggunakan bandana Micky Mouse, sedangkan ia menggunakan bandana evilnya. Aku terus berusaha memberikan senyuman di setiap posenya. Yaaah, hasilnya tak begitu mengecewakan. Jujur saja, ia tampak sangat tampan di sela senyum manisnya. Minhopun juga sempat berkata jika wajahku terlalu imut diantara namja-namja seumuranku.

Tanpa diduga, Minho memberikanku sebuah lolipop besar berwarna-warni.

“hyung, karena kesempatan ini hanya sekali.. terimalah lolipop dariku! bukankah selama ini kau begitu menutup diri sehingga aku tak pernah dapat memberimu sesuatu? Jadi, inilah kesempatannya..” lalu Minho menikmati lolipopnya sembari merangkulkan tangannya kearah bahuku. Akupun tak mau kalah, kunikmati lolipop pemberian Minho. Dan dengan ragu-ragu, meskipun sangat-sangat berat kupaksakan tanganku untuk merangkul bahu Minho.

“h-hh–hyyung?” Minho terlihat begitu terkejut melihatku.

“hmm?” setelah sekian lama, akhirnya aku merasakan keringanan pada beban hidupku. Aku dapat sedlikit tersenyum tulus ke arah Minho.

Minho membalas senyuman simpulku dengan senyuman kebahagiaannya. Melihat senyuman-senyuman bahagia Minho saat ini, telah membuatku cukup lega. Akhirnya, seperti janjiku sebelumnya.. aku dapat memberikan sebuah cinta pada satu orang disekitarku. Seperti halnya dengan mawar-mawarku.

“waah, kalian terlihat begitu kompak,, tampaknya kalian sahabat karib, benar begitu?” tiba-tiba seorang ahjumma yang berdandan serba hitam menghampiri kami berdua. Ia cantik, tapi sedikit menyeramkan menurutku.

“hmmm.. bukan,, kami~”

“ya, kami sahabat karib yang telah begitu lama tak bertemu! jadi wajar saja jika kami berdua terlihat sedikit canggung..” dengan tenangnya Minho merampas porsi bicaraku pada ahjumma ini.

“kau tampak bersinar sekali nak, siapa namamu??” ahjumma itu membelai pelan rambut Minho. Ia tampak antusias sekali padanya, bagaimana denganku? aku sama sekali tak dihiraukannya.

Kuputuskan untuk tak mengganggu pembicaraan mereka berdua. Kuambil ponsel dari saku celanaku untuk memainkan game sembari mengusirkepenatan yang kini menyerangku.

“tidak, nak… kau diselimuti kegelapan!! namun sebentar lagi kau akan mati dengan kebahagiaan batin yang mendalam..” deg! suara ahjumma itu bak menghipnotisku menuju alam bawah sadar. Aku hanya dapat terpaku sesaat setelah mendengar perkataannya. Tiba-tiba saja ponsel yang aku gunakan jatuh entah kemana perginya. Otakku terasa begitu penuh dengan sesuatu, namun aku sendiri tidak mengetahui apa sesuatu itu. Bibirku bergetar hebat, jantungku berdegup kencang, mataku terasa begitu panas. Aku akan mati?

Selama beberapa menit, aku membeku di tempat ini. Dan entahlah, dimana ahjumma itu berada sekarang.

“hyung? kau tak apa? jangan pernah memikirkan tentang ramalan.. kau tahu sendiri bukan jika itu semua tidaklah benar?” meskipun tegang, Minho berusaha untuk menghiburku. Namun keseriusan wajah ahjumma tadilah membuatku mau tak mau mempercayai perkataannya.

“hyung? sadarlah, jika semua orang akan mati.. namun tak ada orang yang akan mengetahui kapan waktunya! Hanya tuhanlah yang mengetahuinya, jadi apa yang perlu ditakutkan??” Minho memeluk dan menepuk pelan punggungku.

‘Oh Tuhan, jika kau menginginkan aku untuk berhenti menderita seperti sekarang ini.. kau boleh memanggilku secepatnya.. tetapi tolong, berikanku kesempatan untuk memberikan cinta pada orang yang begitu aku sayangi di dunia ini…….’ aku menangis sejadi-jadinya di pelukan Minho.

“menangislah hyung, menangislah sepuasmu di pelukanku.. ingat kata-kataku, disini anggaplah kau menjadi namja kecil berumur 10tahun! Jadi kau tak perlu malu dengan sekitarmu..” ujar Minho pelan.

Aku hanya mengangguk mengerti. Tak kuhiraukan umpatan-umpatan para pengunjung yang menilai kami sebagai gay, atau sejenisnya. Yang terpenting, baru kali ini aku merasakan kenyamanan saat dipelukan Minho.

* * *

Aku benci pagi ini. Aku benci ketika para pelayan lagi-lagi mendapatiku dengan mata yang membengkak akibat tangisanku semalam. Disisi lain, aku senang. Karena tuhan belum memanggilku setidaknya hingga hari ini. Aku sungguh tak habis pikir dengan perkataan ahjumma kemarin malam. Perlukah aku mempercayainya?

Ada satu pertanyaan yang terselip di pikiranku, siapakah yang membawaku naik ke mobil saat pulang ke rumah? Siapakah yang mengendarai mobilku? Apakah Minho yang melakukan semuanya? Apakah Minho menggendong tubuhku yang tak ringan ini, dari pasar malam menuju tempat dimana mobilku terparkir? Bukankah itu jaraknya cukup jauh? Apakah Minho benar-benar menyayangiku seperti apa yang dikatakannya??

Ntahlah, aku tak perlu memikirkan terlalu dalam. Yang terpenting, aku telah memenuhi permintaan Minho. Meskipun aku belum sempat menjadi hyung yang baik di malam itu. Justru aku yang lagi-lagi merepotkannya seperti itu.

Haruskah aku berterima kasih padanya?

Atau sebaliknya? haruskah aku tetap bersikap dingin dan tetap menyimpan rasa kebencianku terhadap Minho?

Ditengah-tengah gemelut pemikiranku, kusempatkan mengunjungi taman kesayanganku di sela-sela aktivitas pagi. Namun ada sesuatu yang begitu membuatku tercengang. Daun-daun pada tangkai mawar itu terlihat menguning. Bahkan aku juga melihat mahkota bunga yang satu persatu berguguran jatuh ke tanah. damn! Lelucon macam apa ini? Siapa yang berani-beraninya melakukan ini padaku?? Tidakkah ia berfikir matang-matang, apa yang terjadi jika aku benar-benar marah karena masalah ini? Karena sesuatu kesayanganku yang telah dirusaknya????

–TBC–


RCL dong.. RCL..
Mian yo kalo neko-neko, ga rame ato sejenisnya.. XD XD

Advertisements

About keyjedottaembok

just an ordinary girl who loves KEY!! and KYUMIN ofc :)

Posted on October 28, 2011, in Fanfiction and tagged , , , . Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. Aku reader baruuu #tiba2dtg
    ahhh jangan! Key jgn mati!! T.T perasaan ga enak T.T
    ini udah dilanjut blm thor? Penasaraaaan T.T *nangis
    ih aku terharu wkt minho nangis di meja makan T.T

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: